Sekali lagi, aku ingin membacamu lewat secangkir kopi. Atau lewat hujan yang datang tak berkabar.

Sekali lagi, aku ingin membacamu lewat secangkir kopi. Atau lewat hujan yang datang tak berkabar.

Iklan

Cerita di Bulan Juli

Aku membaca berlembar-lembar malam
yang diciptakan sewajah mendung,
di bulan Juli.
Di seberang halte tak berlampu
Tak ada hujan
Tak ada gerimis
Tak ada jeda untukku duduk di antara nya
Malam menaruh harap,
aku menyimpan cara
Halaman berakhir
Juli berganti
Diam menjadi

“Ketika aku mencoba melupakan gerimis, Hujan datang menghibur.”

Aku masih terduduk di halte bus dekat kampus. Hari ini gerimis tiba-tiba saja datang tanpa permisi. Aku berusaha tak tertidur diantara lamunanku. Maka aku mulai menulis, sambil menunggu bus terakhir lewat. Aku terjebak diantara gerimis sedang.

Aku menaruh sejumlah kertas, yang sudah ku lem bagian atasnya agar tidak berceceran kemana-mana, dipangkuanku. Juga sebuah pensil mekanik yang badannya dilapisi stiker menara Eiffel, kesayanganku. Oh, tak lupa keinginginanku yang memburu untuk menulis. Aku mulai dengan kutipan yang tak sengaja aku pikirkan, pagi tadi. Menaruhnya di pojok kiri paling atas.

“Ketika aku mencoba melupakan gerimis, Hujan datang menghibur.”

Setelah menulis kutipan itu, jemariku, memaku. Badanku tiba-tiba saja bergetar, mengirimkan sinyal kesedihan ke otak. Lantas membuat segalanya diam. Mataku yang sedari tadi terlindungi kaca mata, mulai kuberanikan diri menatap gerimis. Meski ada rasa sakit, karena air yang sedikit memasuki mataku. Berulangkali aku menyeka, tapi percuma. Gerimis membuat kedua mataku perih. Ini bukan tangisan.

Aku memaksa kedua mata ini mencari sesuatu yang aku sendiri tak paham. Bukan angin, bukan ceruk. Lebih mirip seperti bayangan yang terpantul dari gerimis. Karena aku terbiasa membaca gerimis. Setiap akhir halaman, biasanya, akan ada sebuah bayangan. Refleksi atas apa yang telah aku baca. Tapi kali ini aku kehilangan keahlianku dalam membaca.

Aku menarik kembali perhatianku pada setumpuk kertas yang berada dalam pangkuanku. Memakai kembali kaca mata kesayanganku agar aku dapat menulis. Tapi, belum sampai mengawali paragraf, kedua mataku berjalan menuju kutipan yang kutaruh di pojok kanan paling atas. Aku mengejanya kembali dalam hati. “Ketika aku mencoba melupakan gerimis, Hujan datang menghibur.” Aku keheranan. Padahal kutipan itu, aku yang membuat dan menulis yang pada akhirnya aku sendiri yang membacanya. Tapi mengapa aku merasa aneh? Dari mana datangnya kalimat itu? Mengapa rasanya aku mengenal gerimis dan hujan. Ah, nafasku semakin berat, lebih tepatnya sesak menjalar. Aku menyerah.

29 Agustus 2013

Tuhan beri lensa

Kupakai kesepuluh jari untuk menangkapmu

Hitam putih layaknya keseharian di masa lalu

pejalan yang berjalan seperti hujan

bersembunyi seperti hujan

beraroma seperti hujan

berlakon seperti hujan

berbicara seperti hujan

tersenyum seperti hujan

Kamu