Chocolate

A different taste of chocolate. Bitter, but I still love to eat much. The chocolate that you gave me.

Iklan

Lupa Menaruh Coklat

Kupikir, perubahan itu membuatku lupa. Lupa bahwa Tuhan pernah menaruh sebidang coklat di tempat makan kesukaanku. Ternyata aku salah.

 

Menuju Pantai

Bisa saja terbawa arus ombak di pantai. Bisa. Tapi kaki ini ingin menetap sejenak. Berharap kaki ini lebih kuat dari deburnya ombak.

Thinking of my self

I am not changed. I am growing up. Just it.

24

November itu ulang tahunku, ingat?” Katamu dengan riang. Dasar bodoh, mana mungkin aku lupa.”

Pertemuanku dengan Hujan

Aku tidak pernah benar-benar tahu bagaimana Tuhan mempertemukanku dengan hujan. Tuhan balik ketidaksukaanku pada hujan menjadi mendekati suka. Aku tidak pernah benar-benar mempertanyakan alasan Tuhan atau sekedar menerka. Aku tidak pernah benar-benar menjadikan perubahanku sebagai kesimpulan. Aku hanya ingin menjamu kehadiran hujan yang singkat. Aku hanya ingin mempersilakannya menghujani tanahku yang lapang dan sedikit gersang. Aku tidak pernah benar-benar menyuruhnya menetap. Aku hanya benar-benar menatap. Aku hanya ingin menunggu di pojokan halte; melihat hujan menari sesuka hati. Jika hujan ingin pergi lagi, maka aku hanya ingin menunggu. Sekali lagi. Sekali lagi. Sekali lagi menunggu setidaknya hingga aku benar-benar paham apa alasanku menunggu.

Aku kepadamu..

Masih suka hujan meski datang dan pergi tanpa permisi.

Masih suka secangkir kopi hangat meski tahu pahitnya tidak hilang.